Minggu, 05 Desember 2010

PARIWISATA

NAMA                       : RENGGA CHRISDIAN (070910202029)
MATA KULIAH      : MANAJEMEN PARIWISATA
SUMBER                  : Buku Pemasaran Pariwisata (1996) oleh
                                      Drs. H. Oka A. Yoeti, MBA

1.        PENGERTIAN PARIWISATA
Oka A. Yoeti mendefinisikan pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha (bussines) atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.
Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya.
Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal.



2.        PENGERTIAN INDUSTRI PARIWISATA
G.A. Schmoll dalam bukunya Tourism Promotion memberi batasan tentang industri pariwisata sebagai berikut : “turism is a highly desentralized industry consisting of entreprises different insize, location, function, type organization,range of service provideand method used to maketand sll them
Prof Hunziker dalam memberi rumusan definisi industri pariwisata sebagai berikut :”tourism entreprise are all busines entities, by combining various means of production, provide goods and services of a specially tourist-nature.”
Dari definisi Industri pariwisata diatas maka dapat oleh Drs. H. Oka A. Yoeti, MBA bahwa produk dari industri pariwisata adalah semua jasa yang diberikan oleh macam-macam perusahaan, semenjeak seorang wisatawan meninggalkan tempat kediamannya, sampai ditempat tujuan, hingga kembali ke tempat asalnya.
Sedangkan yang disebut wisatawan adalah orang yang mengadakan perjalanan dari tempat kediamannya tanpa menetap ditempat yang didatanginya, atau hanya untuk sementara waktu tinggal ditempat yang didatanginya.

3.        PEMBAGIAN PENGEMBANGAN PARIWISATA
Menurut Oka A. Yoeti (1990: 111-113), letak geografis, dimana kegiatan pariwisata berkembang meliputi :
a.       Pariwisata Lokal (Local Tourism)
Yaitu pariwisata setempat yang mempunyai ruang lingkup relatif sempit dan terbatas dalam tempat-tempat tertentu saja. Misalnya kepariwisataan Kabupaten Jember.
b.      Pariwisata Regional (Regional Tourism)
Yaitu kepariwisataan yang lebih luas dibandingkan dengan lokal tourism tetapi yang sempit dibandingkan kepariwisataan nasional, seperti Bali, Yogyakarta.
c.       Pariwisata Nasional
-          Kepariwisataan dalam arti sempit
Yaitu pariwisata dalam negeri dimana titik beratnya orang yang melakukan perjalanan wisata adalah warga negara sendiri dan orang asing yang berdomisili di negara tersebut.
-          Kepariwisataan nasional dalam arti luas
Jadi di sisi lain adanya lalu lintas wisatawan dalam negeri sendiri, juga ada lalu lintas wisatawan dari luar negeri maupun dan dalam negeri keluar negeri.
d.      Regional-Internasional Tourism
Yaitu kegiatan pariwisata yang berkembang disuatu wilayah internasional yang terbatas, tetapi melewati batas-batas lebih dari dua atau tiga negara diwilayah tersebut, misalnya kepariwisataan ASEAN, Timur Tengah.
e.       International Tourism
Yaitu kegiatan pariwisata yang berkembang diseluruh negara di dunia termasuk didalamnya regional-internasional tourism juga kegiatan national tourism.

4.        PENGERTIAN OBJEK WISATA
Pengertian obyek wisata dalam Undang-Undang Nomor. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan Bab I pasal 4.6 menyebutkan obyek wisata dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Selanjutnya dalam Bab III pasal 4 disebutkan :
1)      Obyek dan daya tarik wisata terdiri atas :
a.       Obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna.
b.      Obyek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan, taman rekreasi dan tempat hiburan.
2)      Pemerintah menetapkan obyek dan daya tarik wisata selain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b.
Oka A. Yoeti (1997) memberikan pengertian obyek wisata adalah berbagai macam hal yang dapat dilihat, disaksikan, dilakukan atau dirasakan. Sementara Chafid Fandeli (1995) mengartikan obyek wisata adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Gamal Suwantoro (1997: 19) menyebutkan obyek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah. Selanjutnya obyek wisata ini dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu :
1)      Obyek wisata dan daya tarik wisata alam
Obyek wisata yang daya tariknya bersumber pada keindahan dan kekayaan alam.
2)      Obyek wisata dan daya tarik budaya
Obyek dan daya tarik bersumber pada kebudayaan, seperti peninggalan sejarah, museum, atraksi kesenian, dan obyek lain yang berkaitan dengan budaya.
3)      Obyek wisata dan daya tarik pada minat khusus
Obyek wisata daya tariknya bersumber pada minat khusus wisatawan itu sendiri, misalnya olah raga, memancing dan lain-lain
Berdasarkan pengertian diatas maka penulis memberikan batasan obyek wisata adalah sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan serta dinikmati oleh  manusia sehingga menimbulkan perasaan senang dan kepuasan jasmani maupun rohani sebagai suatu hiburan.

5.        PRINSIP PERENCANAAN PARIWISATA
Oka A. Yoeti (1997: 13-14) mengungkapkan beberapa prinsip perencanaan pariwisata :
1.    Perencanaan pengembangan kepariwisataan haruslah merupakan satu kesatuan dengan pembangunan regional atau nasional dari pembangunan perekonomian negara. Karena itu perencanaan pembangunan kepariwisataan hendaknya termasuk dalam kerangka kerja dari pembangunan.
2.    Seperti halnya perencanaan sektor perekonomian lainnya, perencanaan pengembangan kepariwisataan menghendaki pendekatan terpadu dengan sektor-sektor lainnya yang banyak berkaitan dengan bidang kepariwisataan.
3.    Perencanaan pengembangan kepariwisataan pada suatu daerah haruslah dibawa koordinasi perencanaan fisik daerah tersebut secara keseluruhan.
4.    Perencanaan suatu daerah untuk tujuan pariwisata harus pula berdasarkan suatu studi yang khusus dibuat untuk itu dengan memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya di daerah sekitar.
5.    Perencanaan fisik suatu daerah untuk tujuan pariwisata harus didasarkan atas penelitian yang sesuai dengan lingkungan alam sekitar dengan memperhatikan faktor geografis yang lebih luas dan tidak meninjau dari segi administrasi saja.
6.    Rencana dan penelitian yang berhubungan dengan pengembangan kepariwisataan pada suatu daerah harus memperhatikan faktor ekologi daerah yang bersangkutan.
7.    Perencanaan pengembangan kepariwisataan tidak hanya memperhatikan masalah dari segi ekonomi saja, tetapi tidak kalah pentingnya memperhatikan masalah sosial yang mungkin ditimbulkan.
8.    Pada masa-masa yang akan datang jam kerja para buruh dan karyawan akan semakin singkat dan waktu senggangnya akan semakin panjang, karena itu dalam perencanaan pariwisata khususnya di daerah yang dekat dengan industri perlu diperhatikan pengadaan fasilitas rekreasi dan hiburan disekitar daerah yang disebut sebagai pre-urban.
9.    Pariwisata walau bagaimana bentuknya, tujuan pembangunan tidak lain untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak tanpa membedakan ras, agama, dan bahasa, karena itu pengembangan pariwisata perlu pula memperhatikan kemungkinan peningkatan kerjasama bangsa-bangsa lain yang saling menguntungkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar