Minggu, 05 Desember 2010

Seminar




UNEJ

IMPLEMENTASI PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI DIGITAL PRINTING DI JEMBER
(STUDI KASUS DI KECAMATAN SUMBERSARI)
IMPLEMENTATION OF QUALITY CONTROL TO PRODUCTION PROCESS OF DIGITAL PRINTING AT JEMBER
(CASE IN SUMBERSARI)
SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN


PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NIAGA
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2010


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Perkembangan industri yang pesat mendorong timbulnya persaingan antar perusahaan sejenis dalam memasarkan hasil produksinya. Persaingan yang terjadi di era globalisasi saat ini disebabkan oleh informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Daya saing yang tinggi memaksa setiap perusahaan untuk memenangkan persaingan yang ada dan merupakan tantangan tersendiri bagi setiap perusahaan untuk berusaha agar hasil produksinya tetap laku di pasaran. Perusahaan dituntut untuk mampu bertahan dan berkembang untuk meningkatkan posisi produknya dalam persaingan tersebut dengan cara menghasilkan produk yang sesuai dengan kondisi pasar. Produk merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan bersaing, oleh sebab itu maka produk harus dikelola dengan sebaik mungkin untuk mencapai efisiensi dan efektivitas proses produksi yang optimal.
Dunia bisnis saat ini telah berkembang pesat bahkan dipenuhi dengan persaingan. Persaingan terjadi antar perusahaan besar ataupun dengan perusahaan yang sedang berkembang. Usaha yang saat ini sedang marak yaitu Usaha Kecil dan Menengah (UKM). UKM memang tergolong usaha yang modalnya cukup terjangkau namun karena keberadannya yang banyak di Indonesia maka UKM mampu menopang perekonomian bangsa Indonesia. Pertumbuhan UKM mulai menjadi topik yang cukup hangat sejak munculnya tesis flexible specialization pada tahun 1980-an, yang didasari oleh pengalaman dari sentra-sentra Industri Skala Kecil (ISK) dan Industri Skala Menengah (ISM) di beberapa negara di Eropa Barat, khususnya Italia (Becattini, 1990; Tambunan, 1999). Usaha Kecil dan Menengah merupakan pelaku bisnis yang bergerak pada berbagai bidang usaha, yang menyentuh kepentingan masyarakat. Berdasarkan data BPS (2003), populasi UKM jumlahnya mencapai 42,5 juta unit atau 99,9 persen dari keseluruhan pelaku bisnis di tanah air. UKM memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 99,6 persen. Menurut data DINAS PERINDAG DAN ESDM KABUPATEN JEMBER perkembangan UKM dari tahun 2005-2009 mencapai angka 4.927 dengan komposisi yang terdiri dari perusahaan kecil, perusahaan menengah dan perusahaan besar. UKM yang berkembang ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 27.699 orang. Dari semua data diatas maka dapat dinyatakan bahwa UKM mampu mendorong perekonomian bangsa khususnya di daerah Jember saat ini. 
Didalam menjalankan aktivitas usahanya perusahaan diharapkan mampu menyediakan produk dalam berbagai kualitas yang dibutuhkan oleh konsumen (melalui kegiatan produksi). Produk yang berkualitas merupakan keinginan setiap konsumen apalagi ditunjang dengan harga yang terjangkau. Sebelum menjadi produk jadi atau setengah jadi, produk pasti melewati suatu proses produksi.  Inovasi didalam suatu produk sangat penting untuk diperhatikan dan dilakukan agar produk yang dihasilkan menjadi produk yang berkualitas dan berbeda. Inovasi dalam suatu produk dapat dilakukan pada saat produksi baik dalam input, proses, atau output. Sehingga hasil akhir produk akan menjadi berbeda dengan produk yang sejenis. Hal ini akan mempengaruhi omset penjualan dan kepercayaan pasar akan produk perusahaan yang melakukan inovasi dan berkualitas.
Proses produksi merupakan hal yang penting  karena pelaksanaan proses produksi yang baik dan sesuai dengan sistem akan menghasilkan hasil akhir yang diharapkan, atau dengan kata lain proses produksi yang mempengaruhi hasil akhir. Pengolahan pada proses produksi  akan melibatkan beberapa hal, yaitu teknologi yang dimiliki perusahaan, sumber daya manusia yang berkualitas, kelancaran ketersediaan bahan yang sesuai, serta semua factor produksi yang mendukung kelancaran proses produksi sehingga mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan. Pelaksanaan proses produksi merupakan kegiatan menambah kegunaan dari  masukan (input) menjadi keluaran (output) yang mempunyai nilai guna yang lebih tinggi. Didalam kegiatan untuk menambah nilai guna produk barang dan jasa tersebut dibutuhkan suatu sistem proses produksi dan operasi agar dapat dilakukan pentransformasian masukan menjadi keluaran dalam jumlah besar dengan kualitas yang menjadi permintaan konsumen. Sistem proses produksi yang semakin kompleks dan mempunyai lingkup operasi yang luas sangat memerlukan adanya fungsi-fungsi manajemen operasi agar perusahaan dapat melakukan operasi produksi dengan lancar.
Pelaksanaan proses produksi tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak direncanakan secara matang terlebih dahulu. Perencanaan merupakan suatu dasar bagi manajer dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Perencanaan yang dilakukan dalam divisi produksi biasanya menyangkut bahan baku, tenaga kerja, mesin, dan peralatan. Harus dipahami bahwa perencanaan tidak berdiri sendiri. Suatu aturan agar dapat terwujud  harus diimbangi dengan pengendalian. Pengendalian disini berperan untuk menjamin suatu perencanaan didalam pelaksanaannya dilapangan sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan.
Kegiatan pengendalian dalam proses produksi sangat diperlukan perusahaan untuk dapat meningkatkan efisiensi produksinya. Makna dari pengendalian itu sendiri yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kegiatan produksi dan operasi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan dapat segera diketahui dan dapat segera diperbaiki sehingga penyimpangan yang terjadi ditekan sekecil mungkin. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi saat proses produksi berlangsung akan menjadi bahan pertimbangan didalam penyusunan rencana produksi  pada masa yang akan datang. Kegiatan pengendalian yang dilakukan didalam pelaksanaan fungsi produksi meliputi pengendalian pada produksi, persediaan, biaya dan kualitas.
Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu diproduksi. Kualitas ditentukan oleh sekumpulan kegunaan (bundle of utilities) atau fungsinya, termasuk didalamnya daya tahan, ketidak- tergantungan pada produk atau komponen lainnya, eksklusivitas, kenyamanan, wujud luar (warna, bentuk, pembungkus, dan sebagainya), dan harga yang ditentukan oleh biaya produksi. Secara umum dari tahun ke tahun kualitas hampir semua produk bertambah baik.
Pengendalian kualitas merupakan bentuk pengendalian yang dilakukan oleh manajemen produksi perusahaan secara berkesinambungan untuk menjaga agar kualitas suatu barang tetap terjaga. Pengendalian kualitas yang baik  memerlukan cara-cara bagaimana pengendalian tersebut harus dilaksanakan dengan benar. Perlu diperhatikan bahwa pengendalian kualitas tidak hanya menjadi tanggung jawab dari satu divisi saja tetapi merupakan tanggung jawab bersama antar semua divisi yang ada di perusahaan tersebut. Ketika ada hasil dari bentuk pengendalian kualitas maka yang memperoleh manfaat adalah semua orang yang bekerja diperusahaan tersebut atau dapat dikatakan milik bersama.
Perusahaan digital printing di Jember selama ini telah melakukan pengendalian kualitas dalam menghasilkan produk yang digunakan oleh konsumen. Usaha digital printing merupakan usaha perorangan yang bergerak menghasilkan barang jadi siap pakai. Didalam menjalankan usahanya setiap manajemen perusahaan berkeinginan disamping mendapatkan keuntungan juga memajukan usaha dan mengembangkan usaha mereka. Keinginan utama perusahaan seiring juga keinginan dari para konsumen yaitu menciptakan atau mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk itu dari hasil observasi pendahuluan diperoleh beberapa data bahwa pihak perusahaan senantiasa memantau proses dan hasil akhir produksi agar sesuai standar kualitas yang telah ditetapkan perusahaan.
Usaha digital printing ini merupakan perluasan dari usaha penerbitan atau percetakan. Pada tahun 2009-2010 usaha penerbitan dan percetakan di Jember tercatat sebanyak 37 dan tersebar di berbagai wilayah di Jember(Sumber: DISPERINDAG). Sedangkan untuk usaha digital printing yang paling banyak saat ini ada di Kecamatan Sumbersasi Jember yaitu sebanyak 12. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi digital printing cukup banyak. Saat ini khususnya di wilayah Jember telah  banyak bermunculan usaha digintal printing dan pada umumnya mereka masih dimiliki secara perorangan. Banyaknya usaha yang muncul menyebabkan semakin ketatnya persaingan yang ada. Hal ini membuat mereka harus berlomba-lomba menciptakan produk yang berkualitas. Berdasarkan  observasi awal di beberapa perusahaan digital printing di Jember  menunjukkan bahwa mereka semua telah menjalankan pengendalian kualitas produk dan senantiasa memantau kualitas produk yang dihasilkan melalui pengendalian kualitas pada saat produksi. Mereka menyadari bahwa kunci untuk memenangkan persaingan yang kedua yaitu melakukan inovasi yang jelas dalam bersaing satu sama lain, tidak hanya sekedar menawarkan harga yang kompetitif, produk-produk baru yang lebih berkualitas karya digital printing juga dibutuhkan. Nampaknya mereka mengetahui inovasi sendiri juga dapat dikatakan sebagai bukti kreatif sebuah gerai digital printing.
Produk yang dihasilkan oleh perusahaan perseorangan ini sangat beraneka ragam. Pengendalian berbagai ragam jenis produk harus dilakukan pada perusahaan digital printing. Macam-macam produknya misal pin, spanduk printing, banner, baliho, brosur, sticker, mug, undangan dan lain-lain. Semua produk yang dihasilkan melalui proses desain, dapat ditentukan oleh konsumen sendiri sehingga hasil akhirnya lebih memuaskan konsumen. Kini proses desain dapat dilakukan dengan bantuan teknologi yaitu komputerisasi. Bahan –bahan yang digunakan berbeda antara satu produk dengan produk yang lain. Pada kenyataanya meskipun telah dilakukan dengan teknologi yang canggih kesalahan atau penyimpangan masih saja sering terjadi. Penyimpangan ini terjadi misalnya terdapat ketidaksesuaian warna antara yang ada di komputer dengan saat dicetak, gambar yang buram atau kesalahan kata-kata pada penulisan dan lain-lain. Dilihat dari fenomena tersebut maka perusahaan digital printing penting untuk melakukan pengendalian kualitas pada proses produksi secara cermat dan tepat agar proses produksi yang dilakukan dapat berjalan sesuai, tepat dan berkualitas. Pengendalian kualitas pada proses produksi selain berfungsi untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya penyimpangan proses produksi juga memberikan tindakan korektif atau solusi apabila terjadi suatu penyimpangan terhadap rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Pengendalian kualitas pada macam-macam proses produksi di perusahaan digital printing masing-masing mencakup tiga tahapan yaitu proses produksi pada saat input, transformasi dan output. Setiap tahapan pengendalian proses produksi mempunyai keterkaitan dan saling mendukung dalam pelaksanaan operasi produksi yang dilaksanakan perusahaan. Koordinasi yang baik dalam setiap tahap pengendalian kualitas pada proses produksi yang tepat dengan penempatan sumber daya manusia yang menguasai permasalahan pengendalian proses produksi sangat mendukung keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan dan adanya produk yang berkualitas diharapkan akan dapat mempertahankan pasar yang sudah dimiliki perusahaan.
Keterkaitan antara implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi  produk yang dilakukan oleh perusahaan digital printing  dengan keberhasilan untuk menghasilkan barang atau produk digital printing yang memenuhi standar kualitas dan permintaan konsumen sehingga mampu menghasilkan suatu keuntungan bagi pihak produsen menjadikan tema pengendalian kualitas pada proses produksi menarik untuk dikaji. Selain itu fenomena di masyarakat yang saat ini sedang berkembang yaitu hampir semua kegiatan yang dilakukan masyarakat yang berhubungan dengan komunikasi baik personal maupun kelompok dilakukan melalui produk digital printing. Untuk hal itu masyarakat pasti menginginkan produk yang berkualitas untuk mendukung komunikasi mereka. Alasan lain yang membuat ketertarikan peneliti yaitu bahwa meskipun hampir semua pengerjaan dalam digital printing telah menggunakan mesin dan teknologi tetap ada penyimpangan yang terjadi dan memerlukan adanya pengendalian kualitas didalamnya.  Beberapa alasan diatas yang melatarbelakangi peneliti mengambil judul pengendalian kualitas pada proses produksi untuk diteliti lebih lanjut.

1.2  Rumusan Masalah
Digital printing yang ada di Jember didalam mencapai tujuan untuk menghasilkan produk usahanya dan untuk memenuhi permintaan pasar yang ada maka memerlukan suatu rangkaian produksi yang baik dan tepat. Secara umum setiap perusahaan yang bergerak didunia bisnis menginginkan untuk selalu menghasilkan produk yang berkualitas didalam aktivitas usahanya. Pengendalian proses produksi diperlukan agar perusahaan dapat menjalankan transformasi input menjadi output secara efektif dan efisien. Pelaksanaan proses produksi yang lancar dan tepat waktu dengan tingkat kualitas yang sesuai dengan permintaan konsumen merupakan kunci sukses perusahaan dalam memperoleh pangsa pasar dan loyalitas konsumen. Untuk mencapai semua itu maka diperlukan suatu pengendalian proses produksi yang baik dan tepat. Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing di Jember?”

1.3  Tujuan Penelitian
Didalam suatu penelitian pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah diungkapkan sebelumnya. Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan diatas maka tujuan dari peneliti dalam melaksanakan penelitian yaitu ingin mengetahui karakteristik implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing di Jember.

1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian adalah hasil dari tercapainya tujuan penelitian. Manfaat dapat dicapai setelah tujuan penelitian terpenuhi. Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
a.       Bagi Peneliti
Dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan serta teori-teori yang didapat dari perkuliahan khususnya teori tentang pengendalian proses produksi dengan membandingkan kenyataan atau praktek yang ada di lapangan.
b.      Bagi Perusahaan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pikiran atau masukan yang berarti bagi perusahaan agar dapat menjadi lebih baik lagi di masa mendatang khususnya didalam pengendalian proses produksi agar output yang dihasilkan mampu menjadi produk yang berkualitas.
c.       Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi, bahan referensi serta tambahan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan semua pihak yang memerlukannya untuk penelitian dengan topik yang sama yakni yang berkaitan dengan masalah implementasi dan pengendalian proses produksi.  


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka atau konsepsi dasar diperlukan untuk mendukung penelitian yang dilakukan seorang peneliti, tinjauan pustaka  juga dibutuhkan agar apa yang ditulis oleh peneliti tidak keluar dari permasalahan yang ada. Konsepsi dasar teori akan memudahkan peneliti dalam menghubungkan antara kenyataan yang terjadi di lapangan dengan teori yang sedang berkembang. Konsep atau ilmu yang mendasari dan menunjang penulisan dalam penelitian ini adalah manajemen produksi.
2.1  Manajemen Produksi dan Operasi
Produksi didalam suatu perusahaan merupakan suatu kegiatan yang cukup penting. Apabila kegiatan produksi dalam suatu perusahaan ini terhenti, maka kegiatan dalam perusahaan tersebut akan ikut terhenti pula karenanya. Demikian pula seandainya terdapat berbagai macam hambatan yang mengakibatkan tersendatnya kegiatan produksi dalam suatu perusahaan tersebut, maka kegiatan didalam perusahaan tersebut akan terganggu pula. Sedemikian pentingnya kegiatan produksi dalam suatu perusahaan ini, sehingga dengan demikian sudah menjadi hal yang sangat umum jika perusahaan-perusahaan akan selalu memperhatikan kegiatan produksi dalam perusahaanya tersebut. Kegiatan produksi dan operasi tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditunjang oleh manajemen yang baik. Manajemen harus dikelola dengan baik agar kegiatan produksi dan operasi  perusahaan dapat berjalan sesuai dengan rencana.
2.1.1 Manajemen
Manajemen menurut Stoner (1996:7) adalah “proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran organisasi yang sudah ditetapkan.” Pengertian Manajemen dalam Encylopedia of the Social Science adalah “suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.” Selanjutnya Haiman menyatakan bahwa manajemen adalah “fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.” Pendapat lain tentang manajemen dikemukakan oleh Marry Parker Follett yaitu “manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.” Adapun fungsi manajemen menurut Terry (dalam Harahap, 2001:4) antara lain:
a.    Planning, yaitu merumuskan kegiatan  apa yang akan dilakukan di kemudian hari.
b.    Organizing, yaitu membagi dan memisahkan tugas-tugas dan fungsi agar diketahui penanggung jawab, pemilik wewenang, dan pembagian tugas serta agar mudah dilaksanakan.
c.     Actuating, yaitu tindakan untuk mengupayakan agar kegiatan yang ada di dalam perusahaan berjalan seirama untuk mencapai tujuan.
d.    Controlling, yaitu menjaga agar rencana yang ditetapkan dapat dicapai atau semua aspek yang ada dalam perusahaan maupun yang ada diluar perusahaan tetap berjalan kearah tujuan organisasi. 
Jadi dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen merupakan suatu kegiatan organisasi yang dilakukan dengan memanfaatkan orang lain demi tercapainya suatu tujuan yang hendak dicapai. Selain itu manajemen merupakan kegiatan untuk mengkoordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Manajemen yang telah dilakukan dengan baik akan menghasilkan tujuan yang baik pula, hal ini juga berlaku jika manjemen dihubungkan dengan produksi dan operasi. Manajemen produksi dan operasi merupakan salah satu bagian dalam ilmu manajemen yang juga mengatur seluruh kegiatan manusia khususnya dalam bidang produksi. 
2.1.2 Manajemen Produksi Dan Operasi
Awalnya konsep yang berkembang dimasyarakat menyatakan bahwa kegiatan-kegiatn yang dilakukan didalam produksi disebut dengan istilah manajemen produksi. Namun seiring berkembangnya zaman serta keadaan yang menggambarkan bahwa kegiatan manajemen produksi tidak hanya menyangkut pemrosesan (manufacturing) berbagai barang tetapi orang-orang juga melaksanakan kegiatan-kegiatan produksi dalam organisasi yang menyediakan berbagai bentuk jasa. Atas dasar perkembangan tersebut, istilah manajemen produksi yang telah banyak dipakai sebelumnya (sampai sekarang) secara luas dipandang kurang mencakup seluruh kegiatan sistem-sistem produksi dalam masyarakat ekonomi kita. Oleh karena itu diperlukan suatu istilah yang lebih tepat dan mempunyai cakupan luas, seperti manajemen operasi (secara implisit berarti operasi-operasi). Meskipun demikian pada masa transisi istilah yang sering digunakan adalah manajemen produksi/operasi atau manajemen produksi dan operasi.
Pada setiap perusahaan yang melakukan suatu proses pengolahan bahan baku menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi adalah mutlak diperlukan adanya manajemen produksi dan operasi, dengan adanya manajemen produksi dan opearsi maka pelaksanaan proses penambahan nilai bahan yang ada akan dapat berjalan dengan lancar. Manajemen produksi dan operasi menurut Handoko (2000:3), “merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi ) seperti tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa.” Para manajer produksi dan operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kuantitas, harga, waktu  dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen. Menurut Assauri (1993: 17), pengertian manajemen produksi adalah sebagai berikut : 
Manajemen produksi dan operasi merupakan kegiatan untuk mengatur dan mengoordinasikan pengunaan sumber-sumber daya yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta bahan. Secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang / jasa.
Selanjutnya Tampubolon (2004:3) mengemukakan bahwa empat fungsi penting dalam manajemen operasional yaitu:
a.     Proses Pengolahan, yang menyangkut metode dan teknik yang digunakan untuk pengolahan faktor masukan.
b.    Jasa-jasa penunjang, yang meruipakan sarana pengorganisasian yang perlu dijalankan, sehingga proses pengolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
c.     Perencanaan, yang merupakan penetapan keterkaitan dan pengorganisasian dari kegiatan operasional yang akan dilakukan dalam suatu kurun waktu atau periode tertentu.
d.    Pengendalian dan Pengawasan, yang merupakan fungsi untuk menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga maksud dan tujuan penggunaan dan pengolahan masukan (inputs) yang secara nyata dapat dilaksanakan. 
Manajemen produksi dan operasi merupakan kegiatan yang mencakup aktifitas yang cukup luas, dimulai dari penganalisisan dan penentuan keputusan tentang kegiatan produksi dan operasi yang biasanya bersifat keputusan jangka panjang, serta keputusan-keputusan pada waktu menyiapkan dan melaksanakan kegiatan produksi dan pengoperasiannya yang biasanya bersifat jangka pendek. Manajemen produksi dan operasi menuntut suatu kecakapan dan ketelitian bagi sumber daya manusia untuk mengelola proses produksi dengan baik. Luasnya ruang lingkup dari manajemen produksi dan operasi maka sebaiknya dipahami dan dimengerti secara mendalam agar dapat lebih mengena akan tujuan yang ingin dicapai.
2.2 Ruang Lingkup Manajemen Produksi dan Operasi
Manajemen produksi mencakup kegiatan-kegiatan yang cukup luas yang menyangkut bermacam-macam keputusan, baik keputusan jangka pendek maupun keputusan jangka panjang mengenai rancangan daripada system produksi dan rancangan operasi dan system pengendalian. Menurut Ahyari (2002:63) ruang lingkup manajemen produksi jika digambarkan akan menjadi Gambar 2.1 seperti dibawah ini:
1.Pengendalian proses produksi
2.                  2. Pengendalian bahan baku
3.                  3. Pengendalian tenaga kerja
4.                  4. Pengendalian biaya produksi
5.                  5. Pengendalian kualitas
6.                  6. Pemeliharaan
7.                 
 
1.Stuktur Organisasi
2.Produksi atas dasar pesanan
3.Produksi untuk persediaan   (pasar)

 
1. Perencanaan
Produk
2. Perencanaan Lokasi Pabrik
3. Perencanaan letak fasilitas produksi
4. Perencanaan lingkungan kerja
5. Perencanaan standar Produksi
 
                                                        Produksi Produksi
PROSES MANAJEMEN
Perencanaan (planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Directing), Pengkoordinasian (coordinating), Pengendalian (Controling)
 


Gambar 2.1 Ruang Lingkup Manajemen Produksi (Ahyari(2002:63)) 
Gambar 2.1 menyatakan bahwa manajemen produksi merupakan suatu proses manajemen yang meliputi beberapa keputusan dalam bidang-bidang persiapan produksi, termasuk diantaranya adalah perencanaan sistem produksi. Keputusan-keputusan yang akan diambil ini dapat merupakan keputusan untuk perencanaan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa ruang lingkup dari manajemen produksi ini akan terdiri dari tiga hal tersebut diatas, yaitu perencanaan sistem produksi, sistem pengendalian produksi dan sistem informasi produksi.
Luasnya ruang lingkup manajemen produksi dan operasi menuntut penanganan yang teliti dan diperlukannya sumber daya manusia menguasai bidang manajemen dan teknik proses produksi perusahaan. Manajemen produksi dan operasi merupakan bagian yang mempunyai peran dominan dalam perusahaan  untuk menghasilkan komoditas perusahaan yang memenuhi standar kualitas dan permintaan pasar. Penanganan optimal perusahaan pada manajemen produksi dan operasi merupakan kunci awal keberhasilan untuk mampu menjalankan proses produksi yang menghasilkan produk berkualitas, memenuhi keinginan konsumen dan bersaing di pasar.
2.3 Produksi
2.3.1 Pengertian Produksi
Produksi diartikan sebagai kegiatan yang dapat menimbukan tambahan manfaat atau penciptaan faedah baru. Faedah atau manfaat ini dapat terdiri dari beberapa macam, misalnya faedah bentuk,  faedah waktu, faedah tempat serta kombinasi dari faedah-faedah tersebut diatas. Produksi merupakan inti atau unsur yang paling penting didalam perusahaan industri, karena dengan melakukan produksi perusahaan akan menghasilkan suatu barang yang berguna bagi masyarakat. Produksi memiliki beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
Menurut  Assauri (1998:11), yang dimaksud dengan produksi yaitu “produksi adalah kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output), tercakup semua aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan barang/jasa, serta kegiatan-kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut.”
Dari definisi diatas, yang dimaksud dengan produksi adalah kegiatan pengubahan input menjadi output dengan segala aktivitasnya, serta kegiatan lain yang menunjang usaha menghasilkan produk tersebut. Jadi dalam produksi terdiri dari tiga bagian yaitu input, proses dan output yang terangkum dalam suatu sistem yang terkait. Kegiatan produksi membutuhkan suatu tempat untuk melaksanakan kegiatannya, tempat yang dimaksud adalah suatu sistem produksi. Menurut Buffa (1993:8-9) yang dimaksud dengan sistem produksi adalah sebagai berikut “sistem produksi adalah wahana yang dipakai dalam mengubah masukan (input) sumber daya untuk menciptakan barang dan jasa yang bermanfaat.” Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa sistem produksi terdiri dari tiga bagian yaitu input produksi, proses produksi dan output produksi.
2.3.2 Proses Produksi
Menurut Assauri (1998:26) sistem proses produksi dapat lebih jelas terlihat jika digambarkan seperti dibawah ini:
Masukan:
-Bahan
-Tenaga Kerja
-Mesin
-Energi
-Modal
-Informasi

 
Informasi Umpan Balik
Gambar 2.2 Sistem Proses Produksi (Assauri (1998:26))
Dari bagan tersebut dapat diketahui bahwa masukan-masukan yang ada dikonversikan ke dalam barang atau jasa yang menjasi keluaran dengan menggunakan teknologi proses tertentu yang merupakan metode tertentu yang digunakan untuk mentransformasikan berbagai masukan menjadi keluaran. Adanya umpan balik dipergunakan untuk mengendalikan teknologi proses atau masukan. Dasar dalam manajemen produksi dan operasi, umpan balik (feedback) dipergunakan untuk mengendalikan masukan dalam menghasilkan keluaran yang diinginkan.
Dalam sistem produksi suatu kegiatan produksi dijalankan untuk mengubah faktor-faktor produksi untuk menciptakan barang yang akan dikonsumsi masyarakat. Pada akhirnya adalah bahwa kegiatan produksi tidak lepas dari sistem produksi. Kegiatan produksi melibatkan input, proses, output. Dari masing-masing unsur diuraikan sebagai berikut :
a.         Input produksi
Untuk melakukan proses produksi dalam suatu perusahaan diperlukan adanya beberapa masukan untuk sistem produksi dalam perusahaan yang bersangkutan. Menurut Assauri (1998:26) “masukan (input) terdiri dari bahan, tenaga kerja, energy, modal, dan informasi.” Input merupakan asset perusahaan agar dalam pelaksanaan kegiatan tidak terjadi hambatan atau gangguan.
b.        Proses produksi
Sebelum mengetahui arti proses produksi, terlebih dahulu diartikan dalam arti proses dan arti produksi. Menurut Assauri (1999:75), “Proses adalah cara, metode atau teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Sedangkan produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa. Proses produksi adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan peralatan sehingga masukan (input) dapat diolah menjadi keluaran yang berupa barang atau jasa, yang pada akhirnya dapat dijual kepada pelanggan untuk memungkinkan perusahaan memperoleh hasil keuntungan yang diharapkan.” Sedangkan Handoko (2000:6) proses diartikan sebagai :
“Proses pengubahan masukan-masukan sumber daya menjadi barang dan jasa. Masukan-masukan ke dalam sistem ini adalah bahan mentah, tenaga kerja, modal, energy dan informasi. Masukan ini diubah menjadi barang atau jasa oleh teknologi proses yang merupakan metode atau cara tertentu yang digunakan untuk proses tranformasi.”
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa proses produksi merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang ada (tenaga kerja, modal, mesin dan peralatan, bahan baku) melalui teknik atau metode tertentu. Proses produksi dilakukan perusahaan menghasilkan barang dan jasa yang diinginkan atau sesuai dengan permintaan konsumen. Beragamnya konsumen membuat perusahaan tidak dapat sembarangan menentukan jenis proses produksi yang akan dijalankan karena jenis proses produksi terkait dengan pengendalian yang akan dilakukan.
Proses produksi dapat dibedakan menjadi dua jenis, Soemarni dan Soeprihanto (1998:207-208) menyatakan dua jenis proses produksi tersebut adalah:
1.    Proses produksi terus-menerus (Continuous Process). Proses ini ditandai dengan aliran bahan baku yang telah tetap atau mempunyai pola yang selalu sama sampai produk selesai dikerjakan. Jenis proses ini biasanya untuk membuat produk secara massa atau dalam jumlah yang besar.
2.    Proses produksi yang terputus-putus (Intermittent Process). Dalam proses ini aliran bahan baku sampai produk jadi tidak memiliki pola yang pasti atau selalu berubah-ubah. Antara produk jadi yang satu dengan produk jadi yang lain bias berbeda-beda. Jenis proses ini biasanya digunakan untuk melayani pesanan yang bias berbeda-beda dalam hal jumlah, kualitas, disain maupun harganya.
Selanjutnya Ahyari (2002:287-309) menyebutkan bahwa dalam proses produksi terdapat beberapa tipe, antara lain :
1.    Proses Produksi Tipe A
Proses produksi tipe A merupakan proses produksi dimana pada setiap tahap proses dapat diperiksa secara mudah, artinya didalam proses produksi semacam ini, pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja dan paada tahap apa saja saat dikehendaki dilaksanakan pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan pada setiap tahap proses ini pada umumnya tidak akan menimbulkan gangguan proses produksi sejauh dilaksankan dengan wajar.
2.    Proses Produksi Tipe B
Proses produksi tipe B didalam hubungannya dengan pengendalian kualitas proses ini adalah merupakan proses produksi dimana ciri utama  dari proses produksi ini adalah bahwa masing-masing tahap proses terdapat ketergantungan yang kuat. Dengan demikian maka pemeriksaaan proses produksi untuk mengawasi kualitas proses hanya dapat dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu saja.  
3.    Proses Produksi Tipe C
Proses produksi yang dikategorikan menjadi proses produksi tipe C didalam pengendalian kualitas proses ini adalah merupakan proses produksi assembling atau sering dikenal dengan nama proses perakitan. Didalam pelaksanaanya proses produksi ini agak berbeda denagan proses produksi yang telah dibicarakan terdahulu, karena proses utama yang dikerjakan adalah melaksanakan perakitan dari komponen-komponen bahan yang telah diproduksikan oleh perusahaan-perusahaan yang lain(atau dapat juga perusahaan yang sama dengan bagian proses yang berbeda).
4.    Proses Produksi Tipe D
Perusahaan yang tergabung didalam proses produksi type D ini adalah perusahaan-perusahaan dimana proses produksinya mempergunakan mesin dan peralatan produksi yang bersifat automatis. Didalam kaitannya dengan proses produksi type D ini, maka perlu kiranya diketahui beberapa perbedaan yang ada antara mekanisasi dan automatisasi.  
5.    Proses Produksi Tipe E
Didalam pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi maka proses produksi type E adalah merupakan proses produksi untuk perusahaan-perusahaan perdagangan dan perusahaan-perusahaan yang menghasilkan jasa.

c.         Output produksi
Pada umumnya keluaran (output) dari sistem produksi adalah merupakan produk atau jasa yang merupakan hasil dari kegiatan produksi dalam perusahaan. Menurut Assauri (1999:28) “output yang dimaksud adalah barang atau jasa. Untuk perusahaan manufaktur outputnya berupa barang,baik barang jadi, barang setengah jadi, bahan kimia dan lain-lain”. Kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan adalah dengan tujuan menghasilkan barang yang pada akhirnya akan dikonsumsi oleh masyarakat.
Pada masing-masing kegiatan produksi yang telah dijelaskan diatas maka hasil akhirnya akan berupa sebuah produk yang akan ditawarkan dipasaran. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan akan memasuki pasar dan bersaing agar mendapatkan tempat dimata masyarakat.
2.3.3 Produk
Pengertian produk tidak dapat dilepaskan dengan kebutuhan, karena produk merupakan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan manusia itulah disebut produk (Gitosudarmo 2002:6). Lebih jelas Kotler (1997:9), menyatakan “Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.” Pendapat tersebut juga menekankan pada kepuasan yang didapat ketika dan sesudah menikmati suatu benda / produk. Produk merupakan segala sesuatu yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia dan organisasi, produk yang berhasil berarti merupakan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan selera konsumen.
Sifat khas suatu produk yang handal harus mempunyai multi dimensi, karena harus memberi kepuasan dan nilai manfaat yang besar bagi konsumen. Setiap produk harus mempunyai ukuran yang mudah dihitung agar mudah dicari konsumen dengan kebutuhannya serta harus ada ukuran yang bersifat kualitatif, seperti warna dan bcntuk yang menarik. Dimensi spesifikasi kualitas produk menurut Prawirosentono (2002:8) dapat dibagi sebagai berikut :
1.    Kinerja (Performance)
Produk yang bermutu harus mempunyai kinerja, misalnya ukuran berat, komposisi serta lama penggunaan. Sifat kinet:.ia suatu produk sering pula disebut dengan karakteristik struktural.
2.    Keistimewaan (types of Feature)
Produk bermutu yang mempunyai keistimewaan khusus dibandingkan dengan produk lain.
3.    Kepercayaan dan waktu (Reability and Durabilif))
Produk yang bermutu baik adalah produk yang mernpunyai kinerja konsisten baik dalam batas-batas perawatan normal.
4.    Mudah dirawat dan diperbaiki
Produk bermutu baik harus pula memenuhi kemudahan untuk diperbaiki / dirawat sehingga barang tersebut dapal beroperasi secara baik.
5.    Sifat khas (Sensory Characteristic)
Beberapa jenis produk mudah dikenal dari bentuknya, suaranya, atau rasanya. Sehingga memberikan citra tersendiri pada kualitas produk tersebut.
6.    Penampilan dan citra etis
7.      Dimensi lain dari produk yang bermutu adalah persepsi konsumen atas suatu produk.
     Kualitas produk pada umumnya didefinisikan sebagai kecocokan penggunaan, maksudnya bahwa produk/jasa memenuhi kebutuhan pelanggan, artinya produk itu cocok dengan penggunaan pelanggan. Lima citra kualitas menurut Schroeder (1995:169) sebagai berikut ::
1.    Teknologi (misalnya, kekuatan dan kesulitan)
2.    Psikologi (misalnya, citarasa, kecantikan, status)
3.    Orientasi waktu (misalnya, kehandalan dan kemampuan perawatan)
4.    Kontraktual (jaminan)
5.    Etika (misalnya, kesopanan personel penjualan, kejujuran)
Tugas perusahaan didalam memproduksi suatu produk yang akan dikeluarkan dipasaran tidaklah mudah. Produk yang dihasilkan harus mampu memiliki kualitas yang baik yang diinginkan oleh pihak konsumen. Untuk menghasilkan suatu produk yang berkualitas tidak dapat terlepas dari proses produksi yang baik pula. Sehingga hal ini harus menjadi perhatian yang serius oleh pihak perusahaan. Bagaimana perusahaan mampu mengelola tahap proses produksi mulai dari bahan baku sampai menjadi sebuah produk yang berkualitas yang bisa bersaing dan memuaskan konsumen. Perlu dipahami bahwa untuk menghasilkan produk yang berkualitas maka memerlukan adanya suatu pengendalian yang berfungsi agar aktivitas perusahaan dapat berjalan lancar dan sesuai tujuan atau target yang telah ditetapkan.
2.4 Standar Operasional Perusahaan
       Perusahaan didalam menjalankan aktivitas bisnisnya pasti memiliki sebuah perencanaan. Langkah selanjutnya setelah menetapkan perencanaan yaitu standar operasional terhadap produk yang dihasilkan. Standar operasional merupakan pedoman yang digunakan untuk melaksanakan proses produksi.  Sehingga dengan adanya suatu standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan maka para karyawan akan memiliki pedoman atau pegangan didalam menjalankan pekerjaannya. Secara umum standar perusahaan menurut Prawirosentono (2002:46-52) dapat digolongkan menjadi :

a.    Standar Operasional Teknis
Standar ini berkaitan dengan bentuk (desain) suatu mutu produk yang dihasilkan. Standar operasional teknis ini terdiri dari standar bahan baku, standar waktu proses, dan standar teknik operasional.
b.    Standar Operasional Manajerial
Perusahaan menyusun standar yang berkaitan dengan pengolahan manajemen perusahaan melalui standar operasional manajerial meliputi standar gaji, standar karir, standar  administrasi, dan standar harga jual.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa standar operasional sangat penting didalam menjalankan suatu usaha. Standarisasi ini akan sangat berguna untuk dijadikan alat pengukur didalam perusahaan baik dalam bidang teknik maupun manajerial yang dilakukan oleh perusahaan. Perencanaan yang baik dari suatu perusahaan dan ditetapkannya suatu standar operasional akan menghasilkan suatu produk hasil proses produksi yang baik. Disamping itu perusahaan memerlukan pengendalian didalam menjalankan usahanya agar jika terjadi penyimpangan-penyimpangan didalam produksi akan segera dicari solusi atau perbaikan.
2.5 Pengendalian
Pengendalian merupakan salah satu fungsi manajemen yang fundamental. Pengendalian merupakan jaminan bahwa hasil-hasil yang dicapai sesuai yang diharapkan. Fungsi ini harus dilaksanakan oleh setiap perusahaan jika perusahaan tersebut rnenginginkan aktifitasnya berjalan dengan lancar. Pada dasarnya pengendaliaan adalah kegiatan lanjutan dari proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengkoordinasian. Di sini dapat dikatakan pengendalian baru dapat dilakukan apabila fungsi -fungsi diatas telah dilakukan.
Menutut Ahyari (2002:44), "Pengendalian diartikan sebagai pengawasan yang sekaligus dapat diambil tindakan untuk perbaikan yang diperlukan". Senada  apa yang disebutkan oleh Koontz dan O'Donell (dalam Robbins, 1999:96) bahwa pengendalian merupakan pengawasan yaitu :
Penilaian dan koreksi atas pelaksanaan kerja yang dilakukan oleh bawahan dengan maksud untuk mendapatkan keyakinan atau menjamin bahwa tujuan­tujuan perusahaan dan rencana yang digunakan untuk mencapainya dilaksanakan.
Dalam pengertian pengendalian tersebut terlihat jelas bahwa kegiatan pengendalian membantu memonitor kegiatan/aktifitas agar sesuai dengan perencanaan dan apabila terjadi penyimpangan maka dapat segera diketahui untuk selanjutnya diambil tindakan korektif.
Adapun menurut Mokler ( dalam Stoner, 1996 :258), "Pengendalian merupakan usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan, untuk mendesain sistem umpan balik informasi untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan". Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengendalian merupakan suatu proses kontrol atas tindakan baik yang sedang ataupun setelah terjadi. Tujuannya agar rencana yang telah disusun atau yang telah ditetapkan dapat terlaksana dengan baik dan penyimpangan-penyimpangan dari pelaksanaan rencana dapat dihindari/apabila terjadi penyimpangan maka dapat segera diketahui untuk selanjutnya diambil tindakan korektif.  Sehingga jika disimpulkan pengendalian merupakan hal yang pokok didalam sistem produksi.
Menurut Gitosudarmo (2002:8), “pengendalian adalah pengawasan yang menggunakan perencanaan sebagai alat kendalinya”. Kegiatan pengendalian membantu memonitor kegiatan agar sesuai dengan perencanaan dan apabila terjadi penyimpangan maka dapat segera diketahuinya.  Pendapat tentang proses pengendalian dikemukakan oleh  Robbins (1999:529) yang menyatakan terdapat tiga langkah sebagai berikut:
1.    Mengukur kinerja sebenarnya
2.    Membandingkan kinerja sebenarnya dengan suatu standar
3.    Mengambil tindakan manajerial untuk membetulkan penyimpangan-penyimpangan atau standar yang tidak memadai.
Adapun langkah-langkah dalam proses pengendalian menurut Mokler (dalam Stoner,1996:258), ada empat yaitu :
1.    Menetapkan standar dan metode untuk mengukur prestasi
2.    Mengukur prestasi kerja
3.    Menilai apakah prestasi kerja memenuhi standar
4.    Mengambil tindakan korektif
Dari definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada intinya langkah pokok yang terdapat dalam pengendalian kualitas haruslah terdapat unsur-unsur standar yang telah ditetapkan, prestasi kerja, cross check dan tindakan perbaikan sehingga diharapkan pengendalian dapat berjalan efektif dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan.
Mengingat akan pentingnya pengendalian didalam suatu sistem produksi maka sebaiknya ada perhatian khusus terhadap pengendalian untuk kedepannya.  Menurut Sumarni .- Soeprihanto ( 1998: 142), syarat pengendalian yang baik yaitu:
1.    Pengendalian harus rnendukung sifat dan kebutuhan dari· kegiatan untuk masing-masing kegiatan, cara pengendalian berbeda-beda antara organisasi kecil dan besar .
2.    Pengendalian harus segera melaporkan setiap ada penyimpangan.
Apabila suatu penyirnpangan ditunda / terlambat pengatasannya maka akibat yang terjadi kesalahan itu akan semakin parah sehingga semakin rumit tindakan korektif yang harus dilakukan.
3.    Pengendalian harus berorientasi ke depan.
Untuk mengetahui yang akan datang, maka manajemen perlu membuat perkiraan / ramalan situasi yang mungkin akan terjadi berkaitan dengan organisasi.
4.    Pengendalian harus akurat dan obyektif.
Manusia dalam melakukan pengendalian seringkali bertindak subyektif/keputusan yang diambil dipengaruhi oleh reaksi pribadi. Oleh karena itu agar pengendalian yang dilakukan itu obyektif maka diperIukan suatu ukuran / standar scbagai pedornan pelaksanaannya.
5.    Pengendalian harus fleksible
Di dalam melaksanakan pengendalian perlu dicari alternatif-alternatif rencana untuk situasi yang memungkinkan.
6.    Pengendalian harus serasi dengan pola organisasi.
Apabila salah satu bagian mernbuat suatu kekeliruan, maka hal itu harus diatasi bersama-sama dengan kegiatan lain yang merupakan suatu kesatuan organisasi.
7.    Pengendalian harus ekonomis.
Perlu diingat pengendalian ada]ah a]at mencapai tujuan, sehingga biaya pengendalian perIu diusahakan seminimal mungkin.
8.    Pengendalian harus mudah dimengerti.
Cara-cara pengendalian harus disesuaikan dengan tindakan pengetahuan yang dimiliki oleh pelaksana pengendali itu, sehingga akan rnudah untuk dimengerti.
9.    Pengendalian harus diikuti dcngan tindakan koreksi.
Cara pengendalian yang baik harus dapat menunjukkan letak penyimpangan yang terjadi, siapa yang harus bertugas serta alternatif untuk tindakan korektif yang akan datang.
Pendapat lain yang berkaitan dengan pengendalian produksi dikemukakan oleh  Ahyari(2002:52-58) yang menyebutkan mengenai pembagian pengendalian produksi yaitu:
1.   Pengendalian proses produksi
Dalam pengendalian proses produksi ini menyangkut produk apa yang akan dihasilkan, berapa yang akan diproduksi dalam periode tertentu, bagaimana cara menyelesaikannya, kapan akan dimulai dan kapan selesainya. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah penentuan urutan dalam proses produksi, penentuan skedul produksi, pemberian perintah kerja, evaluasi dan tindak lanjut dari pelaksanaan kegiatan proses produksi perusahaan.  
2.  Pengendalian Bahan Baku
Sehubungan dengan hal ini perusahaan dituntut untuk dapat menentukan jumlah persediaan yang tepat agar tidak mengalami ganguan dalam proses produksinya, juga dapat melakukan penghematan-penghematan dalam penyediaan bahan baku. Selain itu beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah analisis jumlah pembelian serta frekuensi pembelian, adanya ketidakpastian bahan baku serta penilaian persediaan bahan baku.
3.  Pengendalian Tenaga Kerja
Tenaga kerja mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan produksi perusahaan. Adanya pengendalian tenaga kerja yang baik diharapkan proses produksi perusahaan akan berjalan dengan baik antara lain dengan perekrutan tenaga kerja secara ketat, alokasi tenaga kerja langsung dan training yang baik, pengukuran kerja yang akurat serta penggunaan metode kerja yang sesuai dengan pekerjaan dan penggunaan model yang cocok untuk pemecahan masalah tenaga kerja.  
4.  Pengendalian Biaya Produksi
Untuk dapat melaksanakan pengendalian biaya produksi dalam perusahaan dengan baik, perusahaan dapat mempergunakan berbagai model dan metode pengendalian baiaya produksi yang cocok dengan permasalahan yang dihadapi antara lain penggunaan anggaran produksi, analisis selisih dalam biaya produksi, penerapan konsep biaya relevan dan analisis peluang pokok.
5.  Pengendalian Kualitas
Kualitas produk mempunyai peranan yang cukup penting dalam mempertahankan keberlangsungan hidup perusahaan. Masyarakat pada umumnya akan berfikir lebih kritis daripada tahun-tahun sebelumnya, sehingga pembelian yang dilakukan selalu mempertimbangkan kualitas produk yang ditawarkan. Dengan demikian pengendalian kualitas sudah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak bagi perusahaan. 
6.  Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan pelaksanaan operasi produksi. Jika tidak didukung dengan pemeliharaan yang baik, maka penggunaan sarana dan prasarana produksi yang terus-menerus akan berakibat timbulnya kerusakan dari peralatan produksi.

Kegiatan-kegiatan operasi perusahaan memerlukan adanya pengendalian yang cukup baik sehingga proses produksi dalam perusahaan tersebut dapat berhasil dengan baik pula. Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan agar jika terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya dapat segera diketahui dan dilakukan tindakan koreksi sehingga akan menghasilkan produk yang berkualitas.
2.6 Kualitas atau Mutu
Pengertian umum dari kualitas adalah derajat kepuasan atau kesempumaan dan kesesuaian dan suatu produk atau jasa dengan tujuan penggunaannya. Pengertian dari kualitas adalah faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang / jasa tersebut sesuai dengan rencana untuk apa barang atau hasil tersebut dimaksudkan atau dibutuhkan (Assauri, 1998:205).
Sebenarnya kualitas ini menurut Ahyari (2002:238) adalah “jumlah dari atribut atau sifat-sifat sebagaimana didiskripsikan didalam produk (dan jasa) yang bersangkutan.” Dengan demikian yang dimaksudkan dengan kualitas  ini akan sangat erat berhubungan dengan produk (dan jasa) tersebut, karena akan menunjuk langsung terhadap atribut atau sifat-sifat dari produk (dan jasa) yang bersangkutan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Heizer dan Render (2001:92) yang  menyatakan mutu adalah “totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun tersembunyi, sehingga mutu lebih berorientasi pada pemakainya.” Berdasarkan pendapat diatas, maka mutu merupakan aspek penting dalam suatu produk yang merupakan karakteristik barang. Menurut Heizer dan Render (2001:93), menyatakan bahwa mutu terdapat prinsip-prinsip mutu yang meliputi orientasi pada konsumen, perbaikan yang terus menerus, pemberdayaan karyawan dan tersedia cukup pada waktunya. Prinsip-prinsip tersebut harus dijalankan dalam pelaksanaan pengendalian mutu produk, sehingga akan mencapai kemampuan kornpetisi dalam pasar dan rnendapatkan keuntungan yang besar.
Kualitas dipengaruhi oleh beberapa faktor yang akan menentukan bahwa suatu barang dapat memenuhi tujuannya. Oleh karena itu, kualitas merupakan tingkat pemuasan suatu barang dan tingkat kualitas tersebut ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain :
1.    Fungsi suatu barang
Suatu barang yang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan. Pemenuhan fungsi tersebut mempengaruhi kepuasan para konsumen, sedangkan tingkat kepuasan tertinggi tidak selamanya dapat dipengaruhi atau dicapai. Maka tingkat kualitas suatu barang tergantung pada tingkat pemenuhan fungsi kepuasan penggunaan barang yang dapat dicapai.
2.    Wujud luar
Salah satu faktor yang penting dan sering dipergunakan oleh konsumen dalam melihat suatu barang pertama kalinya, untuk menentukan kualitas barang tersebut adalah wujud luar barang itu. Kadang-kadang walaupun barang yang dihasilkan secara teknis atau mekanis hal ini dapat menyebabkan barang tersebut tidak disenangi oleh konsumen, karena dianggap kualitasnya kurang memenuhi syarat.
3.    Biaya barang tersebut
Umumnya biaya dan harga suatu barang akan dapat menentukan mutu barang tersebut Hal ini terlihat dari barang-barang yang mempunyai biaya atau harga yang mahal, dapat menunjukkan bahwa kualitas barang tersebut relative lebih baik. Barang yang mempunyai biaya atau harga yang murah dapat menunjukkan bahwa kualitas barang tersebut relative lebih rendah. Hal ini teljadi karena biasanya untuk mendapatkan kualitas yang baik dibutuhkan biaya yang lebih mahal. (Assauri, 1998:2006).
       Kualitas atau mutu dipengaruhi oleh karakteristik yang terdapat dalam suatu produk atau jasa sehingga dapat memenuhi harapan pelanggan/ konsumen. Selain itu kualitas produk mempunyai peranan yang cukup penting dalam rangka usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari perusahaan yang bersangkutan. Berproduksi tanpa memperhatikan kualitas hasil produksinya akan berakibat terancamnya kehidupan perusahaan tersebut pada masa yang akan datang. Konsumen didalam mengadakan pembelian produk selalu mempertimbangkan kualitas dari barang yang dibelinya disamping harga produk yang diperlukannya tersebut. Dengan demikian pengendalian kualitas merupakan suatu kebutuhan bagi perusahaan-perusahaan yang menginginkan adanya kemajuan dalam perusahaan yang bersangkutan.
2.7 Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas adalah suatu aktifitas yang sangat perlu dilaksanakan untuk setiap proses produksi, ini disebabkan kualitas hasil produksi perusahaan adalah cerminan keberhasilan perusahaan dimata pelanggan. Pengendalian kualitas menentukan komponen-komponen yang rusak dan menjaganya agar bahan untuk produksi mendatang tidak sampai rusak.
Ada berbagai definisi pengendalian kualitas atau mutu, diantaranya menurut Tunggal (1993:212) mengatakan “Pengendalian mutu adalah teknik operasional dan aktivitas yang digunakan untuk memenuhi persyaratan mutu.”
Pengertian pengendalian kualitas menurut Ahyari (2002:239) adalah sebagai berikut "Pengendalian kualitas merupakan suatu aktifitas untuk menjaga dan mengarahkan agar kualitas produk perusahaan dapat dipertahankan sebagaimana yang telah direncanakan". Usaha pengendalian kualitas ini merupakan usaha preventif (penjagaan) dan dilaksanakan sebelum kesalahan mutu produk tersebut terjadi, serta mengarahkan agar kesalahan mutu tersebut tidak terjadi. Dengan demikian pengendalian kualitas mengandung dua macam pengertian utama yaitu :
1.    Menentukan standar mutu untuk masing-masing produk dari perusahaan yang bcrsangkutan.
2.    Usaha perusahaan untuk dapat memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan tersebut.
Menurut Assauri (1998:210), "Pengendalian / pengawasan kualitas adalah kegiatan untuk memastikan apakah kebijaksanaan dalam hal kualitas (standar) dapat tercermin dalam hasil akhir". Pengendalian mutu merupakan usaha untuk mempertahankan kualitas dari barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan. Usaha perusahaan untuk dapat memenuhi standar mutu produksinya harus dilakukan dengan menerapkan sistem pengendalian mutu yang sesuai. Oleh karena itu dalam pengendalian mutu ada tiga macam pendekatan yaitu pendekatan bahan baku, pendekatan proses, dan pendekatan produk akhir.
Pengendalian kualitas yang dilaksanakan dalam suatu perusahaan supaya dapat tepat mengenai sasarannya serta dapat meminimalkan biaya pengendalian kualitas, perlulah sekiranya dipilih suatu pendekatan yang tepat bagi suatu ' perusahaan. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan Pengendalian kualitas menurut Ahyari (2002:256) yaitu :
1.    Pendekatan bahan baku
Pengaruh kualitas bahan baku yang dipergunakan untuk pelaksanaan proses produksi di dalam perusahaan sangat besar sehingga kualitas produk akhir yang dihasilkan sangat ditentukan oleh kualitas' bahan baku yang dipergunakannya tersebut. Pendekatan bahan baku didalam pengendalian kualitas produk perusahaan adalah untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkannya. Perusahaan akan menitik beratkan kepada pengendalian kualitas bahan baku yang dipergunakannya tersebut.
2.    Pendekatan proses produksi
Pendekatan proses produksi merupakan Pengendalian kualitas produk perusahaan dengan melalui Pengendalian kualitas proses yang dilaksanakannya didalam pcrusahaan yang bcrsangkutan. Proses produksi yang berhubungan dengan Pengendalian kualilas proses di dalam perusahaan pada umumnya dibagi menjadi 5 macam, yaitu proses produksi type A, proses produksi type B, proses produksi type C, proses produksi type D, dan proses produksi type E, Pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi di dalam perusahaan pada umumnya dibagi menjadi tahap yaitu tahapan persiapan, tahap pengendalian proses dan tahap pemeriksaan akhir.
3.    Pendekatan produk akhir
Pendekatan kualitas dengan pendekatan produk akhir merupakan upaya perusahaan untuk dapat mempertahankan kualitas produk yang dihasilkannya dengan mengadakan seleksi terhadap produk akhir perusahaan tersebut. Pelaksanaan pengendalian kualitas dengan mempergunakan pendekatan produk akhir dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam, diantaranya dengan memeriksa seluruh produk akhir yang akan dikirimkan kepada para distributor/pengecer dari produk perusahaan tersebut. Perusahaan akan mernisahkan produk dan tidak dikirimkan kepada para konsumen/tidak disertakan di dalarn pengiriman , oleh distributor produk perusahaan tersebut apabila ternyata ada produk cacat.
Adanya ketiga pendekatan tersebut tidak rnengharuskan setiap perusahaan untuk memilih salah satu pendekatan saja, tetapi perusahaan dapat mempergunakan dua atau bahkan memakai ketiga-tiganya secara bersama-sama untuk melakukan pengendalian kualitas agar hasil akhir yang diperoleh dapat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Jadi pengendalian kualitas merupakan suatu usaha untuk menyempurnakan kualitas dari hasil produksi sehingga dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan memenuhi keinginan para konsumen.  Pengendalian kualitas dibutuhkan dalam tahap proses produksi agar produk yang dihasilkan menjadi berkualitas dan lebih baik dari sebelumnya.


2.8 Pengendalian Kualitas Proses Produksi
2.8.1 Konsep Pengendalian Kualitas Proses Produksi
Bagi perusahaan, pengendalian kualitas proses produksi dirasa sangat penting karena hal ini mencakup factor-faktor lain seperti tenaga kerja, bahan baku, teknologi, biaya dan informasi yang digunakan sehingga dalam proses produksi tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya perubahan tapi kesemuanya tetap mengacu pada standar  produksi yang telah ditetapkan.
Untuk setiap tahap proses produksi pada masing-masing type (A,B,C,D,dan E) pelaksanaanya berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan perbedaan sifat produk dan proses produksi yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan. Adapun langkah-langkah untuk melakukan pengendalian kualitas proses produksi antara lain:
1.    Menguasai Prosedur Kerja
2.    Sesuai dengan perencanaan dan standar produksi
3.    Memahami pengawasan terhadap penyimpangan
4.    Menguasai mekanisme pemeriksaan kegiatan produksi
5.    Menguasi mekanisme perbaikan
6.    Inspeksi 
2.8.2 Fungsi Pengendalian Kualitas Proses Produksi
Fungsi dari pengendalian kualitas proses produksi menurut Assauri (1998:149) dibagi dalam:
1.    Routing
Routing adalah fungsi yang menentukan dan mengatur urutan kegiatan pengerjaan yang logis, sistematis dan ekonomis melalui urutan dimana bahan-bahan dipersiapkan untuk diproses menghasilkan barang jadi serta fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk tiap-tiap operasi.


2.    Loading dan Schedulling
Loading merupakan penentuan dan pengaturan muatan pekerjaan (work load) pada masing-masing pusat pekerjaan (work centre) sehingga dapat ditentukan berapa lama waktu yang diperlukan pada setiap operasi tanpa adanya keterlambatan waktu. Schedulling merupakan pengkoordinasian tentang waktu dalam kegiatan berproduksi sehingga dapat diadakan pengalokasian bahan baku, bahan pembantu dan perlengkapan kepada fasilitas atau bagian pengolahan dalam pabrik pada waktu yang telah ditentukan serta meliputi persoalan berapa banyak produk yang akan dihasilkan dan bilamana bagian-bagian dari produk tersebut diolah (mana yang harus didahulukan dan mana yang terakhir).
3.    Dispatching
Dispatching  disini meliputi penyampaian perintah kepada bagian pengolahan yang dilakukkan dengan urutan yang telah ditentukan, memberi keterangan mengenai pergerakan bahan-bahan yang harus dilakukan ketempat pengolahan yang telah ditentukan, pengerjaan mesin-mesin yang harus dilakukan untuk tiap kegiatan operasi, pencatatan waktu kapan dimulai dan diselesaikan tiap kegiatan operasi dan penyelenggaraan pekerjaan. 
4.    Follow up
Follow up merupakan fungsi dan pengecekan terhadap semua aspek yang mempengaruhi kelancaran proses produksi antara lain mendapatkan bahan baku yang tidak tersedia tapi dibutuhkan, mencari supplier  yang paling baik dan juga meneliti mesin-mesin dan peralatan yang diperlukan termasuk usaha pengecekan terhadap kemajuan pesanan yang diproses, mulai dari permulaan proses sampai dengan terjadinya barang akhir.
2.8.3 Tujuan Pengendalian Kualitas Proses Produksi
Pengendalian kualitas proses produksi di dalam perusahaan pada umumnya mempunyai beberapa tujuan tertentu, yaitu antara lain :
1.  Terdapatnya peningkatan kepuasan konsumen
2.    Proses produksi dilaksanakan dengan biaya yang serendah­rendahnya
3.    Selesai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
Selanjutnya tujuan dari pengendalian kualitas proses produksi menurut  Assauri (1998:210) adalah :
 1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas / mutu yang telah ditetapkan
2.    Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan menggunakan kualitas / mutu produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin
3.    Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin
4.    Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin
Sedangkan tujuan pengendalian kualitas proses produksi menurut Ahyari (2002:239) secara terperinci dinyatakan  sebagai berikut :
1.    Mengusahakan terdapatnya kepuasan konsumen
2.    Proses produksi dapat dilaksanakan dengan biaya serendah-rendahnya
3.    Pekerjaan dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
       Dapat ditarik kesimpulan bahwa pengendalian kualitas proses produksi bertujuan untuk menghasilkan suatu produk yang sesuai dengan keinginan perusahaan serta mengusahakan kelancaran dalam proses produksi dengan mengacu pada metode dan prosedur perusahaan sehingga diharapkan dapat memperkecil penyimpangan yang terjadi dan menghasilkan produk yang berkualitas sesuai harapan konsumen. Pengendalian kualitas proses produksi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan besar namun perusahaan setaraf UKM juga melakukannya agar produk yang dihasilkan dapat mencapai target.
2.9  Usaha Kecil Menengah (UKM)
Beberapa lembaga atau instansi bahkan UU memberikan definisi Usaha Kecil Menengah (UKM), diantaranya adalah Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Badan Pusat Statistik (BPS), Keputusan Menteri Keuangan No 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, dan UU No. 20 Tahun 2008. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai penjualan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggi-tingginya Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari : (1) badan usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi) dan (2) perorangan (pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa)
Pada tanggal 4 Juli 2008 telah ditetapkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Definisi UKM yang disampaikan oleh Undang-undang ini juga berbeda dengan definisi di atas. Menurut UU No 20 Tahun 2008 ini, yang disebut dengan Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00.
Mengingat akan pentingnya peranan UKM di sektor ekonomi maka sudah semestinya UKM menjadi salah satu fokus perhatian dari pihak pemerintah dan semua kalangan. Keberadaan UKM saat ini mampu menopang perekonomian bangsa karena jumlah UKM yang banyak. Perlu dipahami bahwa UKM didalam menjalankan usahanya juga perlu melakukan inovasi. Inovasi yang dimaksudkan yaitu melakukan pembaharuan atau menciptakan hal-hal baru dari yang telah biasa dilakukan oleh perusahaan pesaing sejenis. Hal ini dimaksudkan agar output yang dihasilkan mampu memiliki nilai tersendiri dimata masyarakat luas meskipun skala yang digunakan sebatas UKM.
2.10 Inovasi
       Menurut Peter Fisk (2007:194-195) inovasi memiliki interpretasi yang berbeda-beda dan dapat berarti segalanya atau sama sekali tak berarti. Beberapa mungkin melihatnya sebagai pembukaan kreatif ide-ide hebat, yang lain menganggapnya sebagai aktivitas yang berdasarkan pada proses pengembangan produk baru, yang lain lagi sebagai strategi bisnis dan pembaruan sementara ada juga yang menganggapnya perbaikan terus menerus dalam pekerjaan sehari-hari. Semua pengertian atau pemahaman benar adanya sehingga inovasi memiliki pengertian yang sangat luas tergantung dari sudut pandang orang yang menginterpretasikannya. Inovasi adalah tentang implementasi ide-ide terbaik secara komersial, membuat produk dan jasa baru, cara bekerja baru, atau bahkan model bisnis fundamental dimana anda menjalankan bisnis. Inovasi meliputi segala sektor didalam suatu aktivitas bisnis. Hal penting yang menjadi bahasan inovasi yakni kemampuan untuk melakukan atau melaksanakan sesuatu yang berbeda daripada yang telah ada sebelumnya. Salah satu yang tergolong UKM dan selalu melakukan inovasi atau pembaharuan didalam usahanya yakni perusahaan digital printing.
2.11 Digital Printing
       Salah satu jenis usaha yang bisa dikatakan cukup memiliki potensi untuk berkembang besar saat ini adalah digital printing. Bagi orang-orang yang butuh jasa cetak mencetak cepat digital printing merupakan solusi yang paling tepat. Kecepatan dan proses kerja yang serba instant memang kelebihan digital printing. Tidak hanya itu produksi digital printing juga bisa dilakukan dalam jumlah yang lebih sedikit atau bahkan satu. Banyak hal bisa dilakukan oleh digital printing. Utamanya yang menyangkut urusan promosi dan advertising. Bidang promosi dan advertising dalam negeri memiliki potensi yang cukup terbuka, hanya saja peluang ini belum digarap dengan maksimal oleh para pelaku usahanya. Produk yang dihasilkan dari Digital Printing ini bermacam-macam dan pada umumnya proses pengerjaannya tergantung pesanan. Produk yang dihasilkan contohnya yaitu banner, kaos, gantungan kunci, pin, mug, undangan dan lain-lain.
2.12 Model Analisis
Model analisis dibuat untuk mempermudah dalam pemahaman mengenai jalannya penelitian dan dalam menjawab permasalahan yang muncul. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing di Jember (studi kasus di Kecamatan Sumbersari).








 













Mengubah operasi                        mengubah standar
                             feed back
Gambar 2.3 Model Analisis
2.13 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan memakai tinjauan penelitian terdahulu sebagai bahan tambahan yang diperlukan sebagai salah satu bahan pemikiran dalam penelitian ini.  Berikut adalah gambaran singkat yang menunjukkan perbedaan dan persamaan penelitian yang dilakukan oleh Miftahul Faizin, Ami Prayogo dan Yunanta Setiyawan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Umi Fatimah:
1.    Penelitian sebelumnya dilakukan oleh  Miftahul Faizin pada tahun 2008, dengan judul “Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Dalam Proses Produksi Karet Pada PT Perkebunan Nusantara XII (PERSERO) Kebun Mumbul Afdeling Pabrik Dampar Jember” bertujuan untuk mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan cara-cara pengendalian kualitas dalam proses produksi karet yang dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara XII (PERSERO) Kebun Mumbul Afdeling Pabrik Dampar Jember. Hasil dari penelitian ini ada 2 hal yaitu dalam pelaksanaan pengendalian kualitas organisasi pengendalian kualitas membuat perencanaan, target, dan langkah-langkah yang diambil dalam implementasi proses di lapangan dan  pengendalian kualitas dilakukan dalam tahap input, proses dan output.  Dengan mempertimbangkan beberapa hal maka lokasi penelitian  ditetapkan berada pada PT Perkebunan Nusantara XII (PERSERO) Kebun Mumbul Afdeling Pabrik Dampar Jember . Bidang yang diteliti oleh  Miftahul Faizin adalah proses pengolahan karet dengan menggunakan teknik penarikan sampel Snowball Sampling dan analisis datanya menggunakan Analisis Domain dan Analisis Taksonomi.
2.    Ami Prayogo dalam skripsi pada tahun 2009 melakukan penelitian tentang pengendalian kualitas dengan judul “Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Bahan Baku Susu Pada CV Sari Makmur Ngantang Malang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, memahami, dan mendeskripsikan pelaksanaan pengendalian kualitas bahan baku susu yang dilaksanakan oleh CV Sari Makmur Ngantang Malang. Bidang yang dikaji dalam penelitian ini yaitu Proses Pengolahan Susu dan berlokasi di CV Sari Makmur Ngantang Malang di Jalan Keramat RT 05 RW 02 Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Teknik penarikan sampel yang dipakai adalah Snowball Sampling dan analisis datanya menggunakan Analisis Domain dan Analisis Taksonomi. Hasil dari penelitian ini yaitu  unit persusuan melaksanakan pengendalian bahan baku susu menggunakan 2 cara yaitu pengendalian secara langsung dan tidak langsung melalui dokumen-dokumen dan dalam melaksanakan  tugasnya unit persusuan dibantu oleh unit  penolong/pembantu yaitu unit MAKTER (makanan ternak) dan unit PELTEK (pelayanan teknis).
3. Penelitian dengan grand theory mengenai pengendalian kualitas juga dilakukan oleh Yunanta Setiyawan pada tahun 2009. Lokasi penelitian bertempat di PTPN X (PERSERO) Kebun Ajong Gayasan Jember. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pelaksanaan pengendalian mutu dalam proses produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) Pasca Panen Pada PTPN X (PERSERO) Kebun Ajong Gayasan Jember. Fokus penelitian yaitu  Proses pengolahan tembakau TBN menjadi tembakau siap kirim dengan teknik penarikan sampel Snowball Sampling dan analisis data menggunakan Analisis Domain dan Analisis Taksonomi. Judul dari penelitian yang dilakukan oleh Yunanta ini adalah “Implementasi Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) Pasca Panen Pada PTPN X (PERSERO) Kebun Ajong Gayasan Jember” dan menghasilkan suatu kesimpulan yakni Pelaksanaan pengendalian mutu pada proses produksi TBN pasca panen pada PTPN X berjalan dengan baik dengan 2 metode yaitu metode operatif dan metode administratif.
4.      Pada tahun 2010 penelitian dengan konsep teori mengenai Manajemen Produksi dan Operasi khususnya dalam pengendalian kualitas proses produksi dingkat sebagai skripsi oleh Dewi Umi Fatimah. Judul dari penelitian ini yaitu   “ Implementasi Pengendalian Kualitas Pada Proses Produksi Digital Printing Di Jember (Studi Kasus di Kecamatan Sumbersari)”. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui, memahami dan mendeskripsikan implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing Di Jember (Studi Kasus di Kecamatan Sumbersari) . Sesuatu yang menarik dalam penelitian ini adalah pemilihahan lokasi yaitu 4 UKM Digital Printing yang ada Di Kecamatan Sumbersari dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Bidang yang ingin diteliti yaitu pada tahap Proses Pengolahan 4 Produk Digital Printing (Banner, kartu nama, undangan, souvenir) menjadi barang jadi yang berkualitas. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan  Snowball Sampling dan analisis data menggunakan Analisis Domain dan Analisis Taksonomi.


BAB 3. METODELOGI PENELITIAN
3.1  Pengertian Metode Penelitian
Penelitian merupakan suatu usaha untuk menemukan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan(knowledge) adalah segala sesuatu yang kita ketahui yang jumlahnya sangat banyak dan beragam sedangkan ilmiah (science)adalah pengetahuan yang mengikuti aturan-aturan ilmiah. Penelitian menjadi salah satu kegiatan ilmiah yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi pemecahan suatu masalah. Walaupun tidak semua ilmu pengetahuan diperoleh dari hasil penelitian namun posisi penelitian menempati peran yang sangat strategik dalam menghasilkan ilmu pengetahuan yang terpercaya dan sangat berguna bagi pemecahan suatu masalah dengan mengambil pelajaran dari temuan penelitian. Dengan demikian penelitian pada hakekatnya adalah upaya untuk mencari jawaban yang benar dan logis atas suatu masalah yang didasarkan atas data empiris yang terpercaya.
Metode disini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian itu sendiri diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Dalam melakukan penelitian seseorang dituntut untuk mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.     Penelitian perlu dirancang dan diarahkan guna memecahkan suatu masalah tertentu yang pada akhir penelitian hasilnya dapat menjawab masalah tersebut.
b.    Penelitian tekanannya untuk mengembangkan generalisasi, prinsip-prinsip, serta teori-teori.
c.     Berangkat dan bermula pada masalah atau objek yang diteliti atau diobservasi. Prosedur penelitian tidak dapat digunakan untuk menjawab masalah yang tidak bisa  di observasi dan tidak mempunyai bukti empiris.
d.     Penelitian memerlukan observasi dan deskripsi yang akurat. Untuk itu peneliti menggunakan kuantifikasi serta berbagai alat ukur dan deskripsi yang cermat.
Metode penelitian menurut Sugiyono (2009:2) adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Peneliti dalam melakukan penelitian perlu menggunakan metode penelitian yang sesuai dengan obyek yang diteliti agar memperoleh hasil yang benar.
3.2  Tipe Penelitian
Berdasarkan kajian permasalahan yang telah dikemukakan serta tujuan yang ditetapkan maka penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan paradigma kualitatif. Menurut Bungin (2006:48) tipe penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan berbagai kondisi yang timbul dari obyek penelitian melalui pengembangan konsep, penghimpunan dan pengolahan data untuk memecahkan permasalahan. Sedangkan tipe penelitian deskriptif menurut Moleong (2009: 11) ialah:
“Data yang dikumpulkan berupa kata–kata, gambar, dan bukan angka–angka yang berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya dimana itu semua berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Laporan penelitian ini akan berisi kutipan–kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan.”
Tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif ini berusaha menggambarkan secara mendalam guna menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang diteliti dan tidak memusatkan sesuatu hal tersebut kedalam beberapa variabel deterministik. Hal ini berarti bahwa penelitian deskriptif tidak diperbolehkan mengambil kesimpulan terlalu jauh atas data-data yang diperoleh karena tujuannya hanya menyimpulkan fakta.
Penelitian dengan tipe deskriptif ini didasarkan pada paradigma kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2006:49), “paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.” Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) “paradigma kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.” Definisi lain dikemukakan oleh Bungin (2006:54) yang menyatakan analisa kualitatif umumnya tidak digunakan untuk mencari data dalam arti frekwensi, tapi digunakan untuk menganalisis makna dari data yang tampak dipermukaan, dengan demikian analisis digunakan untuk memahami sebuah fakta bukan untuk menjelaskan fakta tersebut.
Selanjutnya penelitian kualitatif menurut Satori dan Komariah (2009:22) adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial dan tindakan. 
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri–ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Menurut Sugiyono (2009: 13-14) karakterisrik penelitian kualitatif sebagai berikut:
  1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), langsung pada sumber data dan peneliti adalah istrumen kunci.
  2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata–kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka.
  3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses atau outcome.
  4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.
  5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati).

Berdasarkan definisi dan karakteristik diatas, penelitian deskriptif dengan paradigma kualitatif dimaksudkan untuk menggambarkan implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing Di Jember (Studi Kasus di Kecamatan Sumbersari).
3.3 Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini merupakan tahap awal peneliti untuk mempersiapkan diri melaksanakan penelitian, yang termasuk ke dalam tahap persiapan ini adalah:
a.         Studi kepustakaan
Studi pustaka merupakan langkah awal bagi peneliti guna mengkaji teori-teori yang sesuai dengan penelitian yang akan diteliti. Studi kepustakaan merupakan kegiatan untuk menambah dan memperluas pengetahuan peneliti dengan membaca dan mempelajari buku-buku, majalah, artikel, dan hasil penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan. Studi kepustakaan ini berguna untuk menemukan teori-teori yang dipergunakan untuk memperkuat konsep-konsep yang berkaitan dengan batasan penelitian.
b.        Penentuan lokasi penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat bagi peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan untuk memperoleh data tentang implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing di Jember. Lokasi penelitian ditentukan dengan pertimbangan bahwa obyek yang dipilih dapat menunjang topik penelitian yang akan dibahas. Penelitian ini mengambil tempat di Jember khususnya Digital Printing yang ada di Kecamatan Sumbersari. Alasan peneliti memilih lokasi ini adalah:
1.    Digital Printing saat ini sedang marak dilingkungan masyarakat
2.    Di Kabupaten Jember khususnya Kecamatan Sumbersari terdapat banyak Digital Printing
3.    Digital Printing yang mempunyai mesin untuk operasional sendiri sehingga mampu melakukan pengendalian kualitas terhadap produk yang dihasilkan.
4.    Perusahaan Digital Printing yang dipilih bukan merupakan agen dari perusahaan Digital Printing yang lain.
5.    Didalam kegiatan operasional masih terdapat penyimpangan-penyimpangan yang memerlukan pengendalian kualitas.
Dari kriteria diatas maka yang dijadikan obyek penelitian terdapat 3 tempat yaitu  Megah Jaya, Amore, dan Lukman Jaya Media.
c.       Observasi Pendahuluan
Observasi pendahuluan dilakukan langsung pada beberapa Digital Printing   yang ada Di Kecamatan Sumbersari guna memperoleh informasi awal yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan penulis yaitu tentang implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing Di Jember.
d.        Penentuan Informan
Penelitian dalam metode kualitatif diberikan kebebasan dalam menentukan berapa jumlah informan yang akan digunakan guna memperoleh data selengkap-lengkapnya dan sesuai dengan topik penelitian. Informan adalah orang-orang kunci yang dijadikan obyek penelitian, yang dianggap memiliki pengetahuan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Jumlah informan dalam penelitian kualitatif tidak dapat ditentukan terlebih dahulu, akan tetapi disesuaikan dengan jumlah informasi yang diperlukan. Penilitian kualitatif bertujuan untuk menggali informasi aktual secara rinci dari berbagai sumber. Menurut Moleong (2009: 132) mengenai pengertian informan adalah “Orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.” Dalam penelitian kualitatif informan sangat penting, karena itu peneliti harus memilih orang yang benar–benar tepat sebagai informan agar data atau informasi yang diperoleh dapat benar–benar tepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Penentuan informan dalam penelitian ini diawali dengan purposive sampling yang kemudian dilanjutkan dengan snowball sampling. Menurut Sugiyono (2009:218-219) menyebutkan, Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan penentuan berdasarkan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.  Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula–mula jumlahnya kecil kemudian membesar ibarat bola salju yang menggelinding yang lama–lama membesar. Untuk memperluas dan memperdalam gambaran penelitian, maka peneliti akan menentukan informan yang akan dijadikan informan kunci (key informan), yang nantinya key informan tersebut akan menunjukan para peneliti informan-informan lain yang berkompeten yang dapat memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan peneliti. Informan dipilih sesuai dengan kriteria yang dianjurkan oleh Faisal (dalam Sugiyono, 2009: 221), adalah:
a.     Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati.
b.    Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti.
c.     Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi.
d.    Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya” sendiri.
e.     Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber.

Kriteria tersebut dimaksudkan agar data atau informasi yang diperoleh dapat benar-benar tepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun informan yang peneliti pilih untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan tema penelitian antara lain:

a.     Nama                           :   Heru Pujiono
     Jabatan                        :   Pemilik usaha Digital Printing Megah Jaya
     Lama Kerja                 :   7 Tahun
     Topik Wawancara  : Berkaitan dengan Pengendalian Kualitas pada       proses produksi 
b.    Nama                           :   Wahyu J.
     Jabatan                        :   Pemilik usaha Digital Printing Amore
     Lama Kerja                 :    5 Tahun
     Topik Wawancara  : Berkaitan dengan Pengendalian Kualitas pada   proses produksi 
c.     Nama                           :   Lukman Hadi Aziz
Jabatan                        : Pemilik usaha Digital Printing Lukman Jaya         Media
     Lama Kerja                 :   5 Tahun
     Topik Wawancara  : Berkaitan dengan Pengendalian Kualitas pada   proses produksi 
3.4    Tahap Pengumpulan Data
a.         Pengumpulan data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan survey lapangan dan semuanya masih bersifat asli yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Menurut Supriyanto(2009:133) data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari responden. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan beberapa teknik. Teknik yang diambil sesuai dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif.  Teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.    Metode Observasi
Observasi menurut Ngalim Purwanto (dalam Basrowi & Suwandi 2008: 94) observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sisitematis mengenai tingkah laku dengan melihat dan mengamati individu atau kelompok secara langsung. Pendapat lain tentang pengertian observasi dikemukakan oleh Bungin (dalam Sugiyono 2009:105) yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan. Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena social dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. Melalui metode ini, peneliti lebih menonjol sebagai pengamat tanpa melibatkan diri pada kegiatan perusahaan, sehingga dapat memperoleh data yang relevan dan akurat karena peneliti memiliki sarana untuk membandingkan dengan data yang diperoleh saat wawancara. Selanjutnya observasi penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2009:105) adalah pengamatan langsung terhadap objek untuk mengetahui keberadaan objek, situasi, konteks dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian.
2.    Wawancara
Menurut Basrowi dan Suwandi (2008:127) wawancara adalah percakapan dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu.” Sedangkan Sugiyono (2009:130) menyatakan “wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab.” Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. Wawancara dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu terstruktur (pertanyaan dan jawaban telah disediakan terlebih dahulu) dan tidak terstruktur (pertanyaan terbuka yang memungkinkan responden untuk menjawab sesuai dengan keinginannya dan komentarnya terhadap jawaban pertanyaan pertama yang terstruktur). Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistik dan jelas dari informan. Penelitian ini menggunakan wawancara tidak berstruktur agar jawaban lebih luas dan tepat sasaran.  
b.        Pengumpulan data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak lain yang memiliki kaitan erat dengan permasalahan penelitian dari berbagai referensi. Menurut Supriyanto(2009:133) data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, yaitu diolah dan disajikan oleh pihak lain.  Data sekunder dapat diperoleh dengan berbagai teknik seperti dibawah ini:
1.    Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari buku atau literatur yang berkaitan erat dengan kegiatan implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi perusahaan sehingga peneliti memperoleh gambaran yang jelas terhadap permasalahan penelitian dan berusaha mencari pemecahan masalah tersebut. 
2.    Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara untuk memperoleh data langsung ditempat penelitian yang diperoleh melalui buku-buku, peraturan-peraturan, laporan relevan yang ada pada objek penelitian. Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi dan wawancara akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
3.5    Tahap Pemeriksaan Keabsahan Data
Setelah data yang diperlukan untuk penelitian diperoleh, selanjutnya yaitu melakukan pemeriksaan terhadap data atau informasi yang diperoleh. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu melakukan pemilihan data yang relevan dengan topik penelitian serta pemeriksaan terhadap validitas dan keabsahan data yang diperoleh selama melakukan penelitian dilapangan. Pelaksanaan tahap pemeriksaan data didasarkan atas empat kriteria yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, dan kepastian.
Moleong (2006:329) menyatakan bahwa pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan dengan cara:   
a.    Ketekunan pengamatan yaitu dengan memperpanjang masa penelitian baik dengan melakukan dengan wawancara maupun observasi ulang.
b.    Triangulasi yaitu dengan membandinngkan dan mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi dengan memanfaatkan suatu yang lain diluar data yang ada. Sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.
c.    Mendiskusikan dengan orang-orang yang mempunyai kompetensi untuk mendiskusikan proses dan hasil penelitian.
3.6 Tahap Analisis data
Analisis data menurut Nazir (1999:445) merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Tahap analisis data merupakan tahap dimana seluruh informasi atau data yang terkumpul  dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif, dalam arti segala yang muncul diungkapkan secara lebih mendalam dan terperinci dengan menggunakan deskripsi kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2009: 248) analisis data kualitatif adalah:
“Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah–milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.”

Keseluruhan analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data mentah yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Untuk memperoleh data yang relevan, maka teori digunakan sebagai penuntun arah dan pemberi arah.  Selanjutnya data yang diperoleh dideskripsikan setelah dilakukan peringkasan data-data yang sesuai dengan topik penelitian, sehingga diperoleh gambaran yang jelas.
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan analisis domain dan taksonomi. Menurut Sugiyono (2009:256) analisis domain adalah “ analisis domain dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian. Setelah dilakukan analisis domain, maka selanjutnya yaitu domain yang dipilih ditentukan sebagai acuan dalam penelitian. Analisis taksonomi menurut Sugiyono (2009:261) adalah “analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan.” Dengan demikian domain yang telah ditetapkan menjadi cover term oleh peneliti dapat diurai secara lebih rinci dan mendalam melalui analisis taksonomi ini. Berikut tabel analisis domain dan taksonomi dari penelitian ini:
Tabel 3.1 Analisis Domain Implementasi Pengendalian Kualitas pada proses Produksi Digital Printing Di Jember

Domain
Hubungan Semantis
Pertanyaan Struktural
A
B
C
Gambaran umum Perusahaan Digital Printing Di Jember







Pembahasan secara umum mengenai pelaksanaan pengendallian kualitas pada Digital Printing Di Jember
Pengendalian kualitas tidak terlepas dari peran dan fungsi organisasi perusahaan secara umum dan organisasi pengendalian kualitas yang dibangun perusahaan


Implementasi pengendalian kualitas pada tahap produksi
Bagaimana  peranan dan fungsi organisasi secara umum dalam pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi





Bagaimana proses pelaksanaan pengendalian kualitas pada Digital Printing Di Jember








Tabel 3.2 Analisis Taksonomi Implementasi Pengendalian Kualitas pada proses Produksi Digital Printing Di Jember


Bidang
Kegiatan
Deskripsi
A
B
C
a)      Gambaran implementasi pengendalian kualitas
Implementasi pengendalian kualitas pada tahap input





Implementasi pengendalian kualitas pada tahap transformasi



Implementasi pengendalian kualitas pada tahap output


Implementasi pengendalian kualitas terhadap :
a.bahan baku
b. bahan penolong
c. tenaga kerja
d. mesin dan peralatan produksi

Implementasi pengendalian kualitas tahap :
a.       Persiapan bahan baku
b.      Persiapan desain
c.       Persiapan cetak

Implementasi pengendalian kualitas pada tahap  finishing

Analisis dimulai dengan mengumpulkan data mentah dari hasil wawancara dengan informan sesuai dengan  fakta yang ada dilapangan mengenai pengendalian kualitas yang dilakukan  perusahaan Digital Printing.  Kemudian dari informasi asli ini dilakukan pendeskripsian data tersebut yang pada dasarnya adalah meringkas data yang telah dipilih dan disesuaikan dengan topik untuk mendapatkan gambaran yang jelas. Proses selanjutnya adalah melakukan interpretasi yaitu memberikan pemahaman analisis terhadap realitas hasil penelitian berdasarkan kerangka teoritis tersebut sehingga akan diperoleh pemahaman. Pada akhirnya dari keseluruhan proses analisis data ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai implementasi pengendalian kualitas pada proses produksi Digital Printing Di Jember.


3.7    Tahap Penarikan Kesimpulan 
Tahap penarikan kesimpulan dilakukan sebagai tahap akhir dalam penelitian ini.   Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pada data yang telah diperoleh dan dianalisis sehingga ditemukan jawaban dari permasalahan yang diangkat. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan metode deduktif yaitu penarikan kesimpulan yang berangkat dari hal-hal yang bersifat umum kedalam hal-hal yang bersifat khusus, hal ini berarti kesimpulan penelitian ini berawal dari teori yang bersifat umum dan bertolak dari tersebut kita dapat menilai kebijakan  yang khusus.




DAFTAR BACAAN
Buku
Ahyari, Agus. 2002. Manajemen Produksi (Perencanaan Sistem Produksi buku 1). Yogyakarta:BPFE.
………………….2002. Manajemen Produksi (Pengendalian Produksi buku 2). Yogyakarta:BPFE.
Assauri, Sofjan. 1993. Manajemen Produksi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi     Universitas Indonesia.
………………... 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi     Universitas Indonesia.
………………... 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi     Universitas Indonesia.
Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Buffa, Elwood. 1993. Manajemen Produksi/Operasi Modern. Jilid 1. Jakarta:Erlangga.
Bungin, B. 2006. Metode Penelitian Kualitatatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Gitosudarmo, Indriyo. 2002. Manajemen Operasi. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta.
Handoko, T. Hani. 2000. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Jilid 1. Yogyakarta:BPFE  
Harahap, Sofyan S. 2001. Sistem Pengawasan Manajemen. Jakarta: Pustaka Quantum.
Heizer, J dan Render B. 2001. Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi. Jakarta: Salemba Empat.
Kotler, Philip dan Amstrong. 1997. Dasar-Dasar Pemasaran. Jilid 1. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Moleong, L.J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif.  Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh., Ph.D. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
Prawirosentono. 2002. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara.
Robbins, S P. dan M Coulter. 1999. Manajemen Jilid Kedua. Jakarta: PT. Prenhallindo
Satori, D. dan Aan Komariah. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif.  Bandung: Alfabeta.
Schroeder, R. 1995. Manajemen Operasi. Jakarta: Erlangga.
Stoner, JAF. 1996. Manajemen. Jakarta : Penerbit Prehallindo.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sumarni, M dan J. Soeprihanto. 1998. Pengantar Bisnis (Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan).  Yogyakarta : Liberty.  
Supriyanto. 2009. Metodologi Riset Bisnis. Jakarta: PT. Indeks.
Tampubolon, Manahan P. 2004. Manajemen Operasional(Operation Management). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Tunggal, Amin W. 1993. Manajemen Mutu Terpadu Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Skripsi
Faizin, Mitahul. 2008. Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Dalam Proses Produksi Karet Pada PT Perkebunan Nusantara XII (PERSERO) Kebun Mumbul Afdeling Pabrik Dampar Jember. Skripsi, Universitas Jember.

Prayogo, Ami. 2009. Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Bahan Baku Susu Pada CV Sari Makmur Ngantang Malang. Skripsi, Universitas Jember.

Setiyawan, Yunanta. 2009. Implementasi Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) Pasca Panen Pada PTPN X (PERSERO) Kebun Ajong Gayasan Jember. Skripsi, Universitas Jember.

          
Internet






PEDOMAN WAWANCARA

1.               Deskripsi Perusahaan
1.1  Gambaran Umum Perusahaan
1.1.1        Sejarah berdirinya perusahaan
1.1.1.1  Tahun pendirian perusahaan
1.1.1.2  Lokasi perusahaan
1.1.1.3  Profil perusahaan
1.1.2        Visi dan misi perusahaan
1.1.3        Layout proses produksi
1.1.4        Pengembangan perusahaan
1.2  Sumber Daya Perusahaan
1.2.1        Jumlah Karyawan
1.2.2        Tingkat Pendidikan tenaga kerja
1.2.3        Masa kerja
1.3  Organisasi dan Manajemen
1.3.1        Struktur Organisasi perusahaan
1.3.2        Tugas dan tanggung jawab
2.               Deskripsi Permasalahan
2.1  Perencanaan Produksi
2.1.1        Bahan baku
2.1.1.1  Asal bahan baku dan bahan penolong
2.1.1.2  Bahan baku yang digunakan
2.1.1.3  Pemakaian bahan baku selama 2 tahun terakhir
2.1.2        Tenaga kerja
2.1.2.1  Klasifikasi tenaga kerja
2.1.2.2  Hari dan jam kerja
2.1.2.3 Jumlah tenaga kerja
2.1.3        Produk yang dihasilkan
2.1.3.1  Jenis produk yang dihasilkan
2.1.3.2  Standarisasi  produk
2.1.3.3  Hasil produksi selama 2 tahun terakhir
2.2  Kegiatan Produksi
2.2.1        Tahapan proses produksi
2.2.2        Jumlah bahan baku yang diproses
2.2.3        Peralatan dan mesin yang digunakan
2.3  Pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi
2.3.1        Pengendalian kualitas pada aspek input
2.3.2        Pengendalian Kualitaas pada aspek transformasi
2.3.3         Pengendalian Kualitaas pada aspek output
2.4  Data- data produksi